Statistik

Minggu, 29 Mei 2011

RPG part 1

Sudah dua tahun lebih saya bergabung di sebuah forum role play berbasis teks. Mungkin ada yang masih belum tau role play game basis teks ini apa. Bagi mereka yang suka menulis, mungkin forum-forum semacam ini akan banyak membantu mereka untuk menyalurkan hobi, hanya perlu diperhatikan bahwa RPG text basic ini berbeda dengan menulis cerpen atau novel yang menggunakan kata ganti orang pertama. RPG text basic menggunakan kata ganti orang ketiga, sehingga kita seolah menggerakkan sebuah karakter. Di forum role play ini, kita disebut sebagai PM (Puppet Master/Mistress) dan karakter ciptaan kita biasa disebut Chara. Chara disini memiliki semacam 'wajah' yang biasa disebut Visualisasi (Visu) Visu yang dipakai biasanya Visu artis atau orang terkenal. Biar lebih memudahkan, coba saya kasih beberapa link yang merupakan forum role play berbasis teks yang ada di Indonesia.

BTM RPF http://btmrpg.game4indo.com
BTM adalah forum pertama yang saya ikuti. Adalah forum RP yang bersetting dunia Harry Potter tapi tak ada tokoh Harry Potter dkk di dalamnya. BTM hanya meminjam tempatnya saja. Jadi, kita masih bisa menjadi murid Hogwarts, bisa bermain di Danau Hitam, mengikuti kelas, sampai dunia di luar Hogwarts seperti Kementerian Sihir dan Rumah Sakit Sihir St. Mungo juga dapat ditemukan disana.
BTM berdiri sejak tahun 2008, tepatnya di bulan Mei dan masih eksis hingga sekarang, dengan jumlah member hingga lima ratusan. Timeline forum ini mengambil tahun 2000an, dan sekarang ini sudah masuk Timeline tahun 2013-2014, sehingga diceritakan Penyihir di masa ini sudah mengenal dunia modern dan mulai hidup berdampingan dengan para Muggle meskipun masih ada batas dunia yg berbeda.

Tulisan selanjutnya, saya mau nyeritain beberapa Character yang ada di BTM ;)

Jumat, 27 Mei 2011

I Won't Worry



 Office. 27 Januari 2011, 14.30 wib

Di antara dengungan beberapa orang yang sedang berbincang, membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan bisnis dan proyek di masa depan, aku hanya duduk diam sambil menekuri layar laptop hitamku. Tak ada interaksi atau konversasi antara aku dengan mereka. Tak ada. Karena memang aku tak terlibat dalam pembicaraan yang menurutku masih terasa absurd. Dua orang pria berusia tiga puluhan yang berbicara dengan aksen British nan kental tersebut, masih saling memberikan interaksi satu sama lain, sementara aku masih saja tetap berkutat dalam setumpuk laporan yang deadline dalam waktu kurang dari satu jam.
-----
Namaku Mary, gadis lajang yang menginjak usia dua puluh enam tahun ini. Just an ordinary girl, yang bagi sebagian orang manis, tapi bagi sebagian orang lagi lugu, alias dapat dimanfaatkan. Tak perlu mengabsen satu-persatu siapa saja mereka, namun selama perjalanan hidup dua puluh enam tahun, sudah pasti dapat merasakan mana yang benar-benar peduli dan mana yang tidak. Bisa saja ia menjadi gadis manis layaknya malaikat dengan sifat yang suka menolong dan tak tega melihat kesusahan orang lain, tapi ia juga bisa memberikan kata-kata tajam yang tak segan menusuk hati seseorang yang mendengarnya. Untuk hal terakhir, beruntunglah seseorang yang pernah mendapatkan 'hadiah' itu.

Aku bekerja kontrak selama enam bulan, di sebuah organisasi atau NGO asing yang sedang melakukan proyek di kota Yogyakarta. Selain aku dan partnerku, masih ada tujuh orang lagi yang memiliki titel sama sebagai Konsultan Teknis. Sementara Supervisor dan Asisten Proyek bertugas secara bergantian, karena kantor berpusat di Jakarta. Dalam beberapa waktu, Asisten dan Manager Proyek yang berkewarganegaraan asing tersebut berkunjung ke Yogyakarta untuk melakukan evaluasi. Itulah mengapa ada beberapa orang asing yang hilir mudik ke dalam salah satu kantor pemerintah yang salah satu ruangannya memang disewa untuk dijadikan kantor selama proyek ini berjalan, dan itulah pula mengapa interaksi lebih banyak menggunakan bahasa asing, meskipun bahasa Inggrisku tak bagus-bagus amat.

Rutinitas pagi yang sudah enam bulan aku lakoni. Bangun tidur, membersihkan rumah, dan tepat pukul delapan aku sudah harus sampai di kantor yang berjarak hanya tiga kilometer dari rumahku. Sesampainya di dalam ruangan yang tak lepas dari pendingin udara tersebut, aku segera menyalakan laptop, mengerjakan laporan yang seolah senantiasa menggunung tiada akhir. Seharusnya aku mengerjakannya dengan satu teman lagi, atau partner. Tapi sang partner lebih suka melakukan pekerjaan yang sama sekali bukan job description dalam surat kontrak. Anggap saja sang partner yang berkromosom XY itu sedang dalam tahap mencari muka kepada bos besar agar kontrak tetap diperpanjang. Hal yang wajar mengingat kontrak enam bulan akan habis di bulan ini, sehingga berbagai cara dilakukan agar kinerja kita diakui bahkan dilanjutkan dengan proyek baru.

Tapi aku tak sempat melakukan aksi mencari simpati, waktuku habis untuk laporan dan laporan yang jika dibaca lebih lanjut... nonsens. Tumpukan-tumpukan kertas berisi data, gambar, perhitungan, dan lain-lain hanyalah sebatas kertas yang nantinya hanya akan diabaikan oleh para petinggi yang menamakan diri mereka adalah Project Manager. Meskipun begitu, gadis bernama Mary itu tetap menekuni segala laporan tersebut hingga tak sempat memperhatikan segala yang ada di sekitarnya, termasuk pembicaraan serius antara dua pria yang masih tetap berlangsung hingga aku hampir menyelesaikan laporan terakhirku selama nyaris satu jam. Satu jam, dan aku sebentar lagi akan mengetahui nasibnya. Apakah aku akan terus dapat melanjutkan proyek yang sekiranya dilakukan di luar kota atau langkahku cukup berhenti sampai disini? Ketika itu aku sama sekali tak tahu dan hanya pasrah kepada nasib. Orangtuaku pernah berkata bahwa, 'Jika kita melakukannya dengan baik, apapun hasilnya, harus kita terima.' Well, apakah aku dapat menerapkan pesan yang disampaikan oleh kedua orangtuaku tersebut?

Office 27 Januari 2011 14.55 wib

"Sir, saya sudah menyelesaikan laporannya."

“Aha, thank you, perfect!”

Kurang dari lima menit dari tenggat, dan aku telah berhasil mengirimkan laporan-laporan tersebut melalui e-mail, meskipun saat itu kondisiku sedang tak fit. Hidung mampet, kepala cenat cenut, dan badan yang demam karena terkena Flu laknat, aku tetap tersenyum. Memberikan senyuman lebar seperti biasa kepada atasanku yang merupakan bule, atasan yang masih ku hormati sejauh ini karena sikapnya yang baik. Respon positif dari sang atasan perihal laporan yang aku sampaikan memberikan sedikit semangat untukku  yang sempat luntur. Aku memang gugup, karena sebentar lagi aku akan mengetahui keputusan penting tersebut.

Sembari menunggu dua orang yang kembali melanjutkan perbincangan setelah sempat aku interupsi, aku memilih untuk ber-streaming ria, kebetulan kantor ini akses internetnya cukup cepat, sehingga tak masalah jika aku mendengarkan radio favorite yang sudah lebih dari dua tahun menjadi teman setia. Di tengah-tengah kegundahan karena menunggu, suara Jason Mraz menjadi salah satu obat penenang yang sangat berarti. Mungkin karena aku juga ngefans sekali dengan dia, hampir playlist di laptopku berisi lagu-lagu dia, tapi mengapa tak pernah bosan juga mendengarnya. Oke, pembahasan tentang Jason Mraz akan menghabiskan banyak waktu dan tentu tak habis ditulis hanya dalam satu lembar kertas. Aku berdendang pelan, tak berani bersuara keras kalau tak ingin mendapat tatapan tajam dari dua orang penting itu. Ah iya, kebetulan di dalam kantor ini yang memiliki kasta terendah hanyalah aku. Sang partner sedang mencari makan sore, sementara ketujuh teman-temanku yang lain sedang berada di lapangan. Musibah untukku karena terjebak dalam ruangan ini, well...

Satu bulan sebelumnya.

I heard two men talking on the radio
In a cross fire kind of reality show

“Kamu punya kans sampai 80% kok, Mary.”

“Darimana kamu tahu? Memangnya kamu yang nentuin?”

“Aku dapat bocoran dari supervisor. Kalo kamu bisa nyelesaiin semua laporan dan pendampingan, aku yakin kamu bakal tetep lanjut”

Aku yang saat itu sedang mendengarkan radio di mobil bersama partner kerjaku, hanya bengong. Yah, memang dia dikenal dekat dengan para supervisor yang nantinya akan menyortir kami kembali. Kata-kata dari partnerku itu berhasil membuat semangatku tetap stabil. Sebelum ia mengatakan sesuatu.

“Aku sudah dapet surat kontrak.”

“Eh, apa? Surat kontrak yang mana?”

“Aku tetap diperpanjang sampe tahun depan. Makanya kamu lebih keras lagi biar kayak aku”

WHAT?

Office, 27 January 2011. 16.15 wib

“Mary, bisa bicara sebentar?”

Aku yang asyik mendengarkan lagunya Evan dan Jaron yang berjudul Distance, sontak langsung menutup tab. Posisi duduk yang sebelumnya sempat melorot dengan kepala bersandar di puncak kursi dan laptop yang tergolek manis di atas pangkuan, langsung aku letakkan di atas meja.

“Silakan.” Sahutku sambil melepaskan kabel charger laptop yang sempat membelit di pergelangan kaki.
“Oke, begini... kau tahu bahwa setelah program di Jogja selesai, kita akan melanjutkan di kota lain. Tempo hari aku telah menerima seluruh sms dari kalian semua bahwa kalian bersedia melanjutkan program..”

Then?

“Tapi sayang sekali, dana kami tak cukup untuk membawa kalian semua kesana. Sehingga kami hanya akan membawa empat orang dari kalian.”

Dug... dug...

“Mary, kerjamu bagus dan aku lihat kau bekerja keras selama proyek berlangsung. Dedikasimu untuk program ini baik sekali, aku tak akan meragukannya.”

Tersenyum, tapi ini belum akhir, kan?

“Kau mengerjakan laporan, melakukan pendampingan, semua kau lakukan dengan baik. Bahkan kau memiliki inisiatif bagus daripada teman-temanmu yang lain.”

Sir, kalau kau lebih lama bertele-tele maka kau akan membuat jantungku berhenti lebih cepat. Oh My...

“Setelah aku dan yang lain melakukan evaluasi dan rapat selama beberapa hari di Jakarta. Keputusannya adalah...”

“Maaf, kau tak bisa melanjutkan program ini.”

Aku hanya mengangguk sambil mengatakan ‘oke, tak masalah’ selama berkali-kali tanpa menghilangkan senyuman dari wajahku. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada bos bule ku dan memasukkan laptop kedalam ransel. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, aku sudah berada di luar ruangan, menahan rasa sesak di dada yang rasanya tak karuan. Sialnya aku belum bisa menangis jika masih berpapasan dengan orang, tapi kemudian aku teringat akan pesan kedua orangtuaku. Oke, mungkin itulah yang terbaik, karena aku yakin, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian, meskipun kejadian tersebut tak menyenangkan.

 FIN.

Lirik credit to Jason Mraz - Remedy