Sudah dua tahun lebih saya bergabung di sebuah forum role play berbasis teks. Mungkin ada yang masih belum tau role play game basis teks ini apa. Bagi mereka yang suka menulis, mungkin forum-forum semacam ini akan banyak membantu mereka untuk menyalurkan hobi, hanya perlu diperhatikan bahwa RPG text basic ini berbeda dengan menulis cerpen atau novel yang menggunakan kata ganti orang pertama. RPG text basic menggunakan kata ganti orang ketiga, sehingga kita seolah menggerakkan sebuah karakter. Di forum role play ini, kita disebut sebagai PM (Puppet Master/Mistress) dan karakter ciptaan kita biasa disebut Chara. Chara disini memiliki semacam 'wajah' yang biasa disebut Visualisasi (Visu) Visu yang dipakai biasanya Visu artis atau orang terkenal. Biar lebih memudahkan, coba saya kasih beberapa link yang merupakan forum role play berbasis teks yang ada di Indonesia.
BTM RPF http://btmrpg.game4indo.com
BTM adalah forum pertama yang saya ikuti. Adalah forum RP yang bersetting dunia Harry Potter tapi tak ada tokoh Harry Potter dkk di dalamnya. BTM hanya meminjam tempatnya saja. Jadi, kita masih bisa menjadi murid Hogwarts, bisa bermain di Danau Hitam, mengikuti kelas, sampai dunia di luar Hogwarts seperti Kementerian Sihir dan Rumah Sakit Sihir St. Mungo juga dapat ditemukan disana.
BTM berdiri sejak tahun 2008, tepatnya di bulan Mei dan masih eksis hingga sekarang, dengan jumlah member hingga lima ratusan. Timeline forum ini mengambil tahun 2000an, dan sekarang ini sudah masuk Timeline tahun 2013-2014, sehingga diceritakan Penyihir di masa ini sudah mengenal dunia modern dan mulai hidup berdampingan dengan para Muggle meskipun masih ada batas dunia yg berbeda.
Tulisan selanjutnya, saya mau nyeritain beberapa Character yang ada di BTM ;)
Tria mau apa?
Statistik
Minggu, 29 Mei 2011
Jumat, 27 Mei 2011
I Won't Worry
Office. 27 Januari 2011, 14.30 wib
Di antara dengungan beberapa orang yang sedang berbincang, membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan bisnis dan proyek di masa depan, aku hanya duduk diam sambil menekuri layar laptop hitamku. Tak ada interaksi atau konversasi antara aku dengan mereka. Tak ada. Karena memang aku tak terlibat dalam pembicaraan yang menurutku masih terasa absurd. Dua orang pria berusia tiga puluhan yang berbicara dengan aksen British nan kental tersebut, masih saling memberikan interaksi satu sama lain, sementara aku masih saja tetap berkutat dalam setumpuk laporan yang deadline dalam waktu kurang dari satu jam.
-----
Namaku Mary, gadis lajang yang menginjak usia dua puluh enam tahun ini. Just an ordinary girl, yang bagi sebagian orang manis, tapi bagi sebagian orang lagi lugu, alias dapat dimanfaatkan. Tak perlu mengabsen satu-persatu siapa saja mereka, namun selama perjalanan hidup dua puluh enam tahun, sudah pasti dapat merasakan mana yang benar-benar peduli dan mana yang tidak. Bisa saja ia menjadi gadis manis layaknya malaikat dengan sifat yang suka menolong dan tak tega melihat kesusahan orang lain, tapi ia juga bisa memberikan kata-kata tajam yang tak segan menusuk hati seseorang yang mendengarnya. Untuk hal terakhir, beruntunglah seseorang yang pernah mendapatkan 'hadiah' itu.
Aku bekerja kontrak selama enam bulan, di sebuah organisasi atau NGO asing yang sedang melakukan proyek di kota Yogyakarta. Selain aku dan partnerku, masih ada tujuh orang lagi yang memiliki titel sama sebagai Konsultan Teknis. Sementara Supervisor dan Asisten Proyek bertugas secara bergantian, karena kantor berpusat di Jakarta. Dalam beberapa waktu, Asisten dan Manager Proyek yang berkewarganegaraan asing tersebut berkunjung ke Yogyakarta untuk melakukan evaluasi. Itulah mengapa ada beberapa orang asing yang hilir mudik ke dalam salah satu kantor pemerintah yang salah satu ruangannya memang disewa untuk dijadikan kantor selama proyek ini berjalan, dan itulah pula mengapa interaksi lebih banyak menggunakan bahasa asing, meskipun bahasa Inggrisku tak bagus-bagus amat.
Rutinitas pagi yang sudah enam bulan aku lakoni. Bangun tidur, membersihkan rumah, dan tepat pukul delapan aku sudah harus sampai di kantor yang berjarak hanya tiga kilometer dari rumahku. Sesampainya di dalam ruangan yang tak lepas dari pendingin udara tersebut, aku segera menyalakan laptop, mengerjakan laporan yang seolah senantiasa menggunung tiada akhir. Seharusnya aku mengerjakannya dengan satu teman lagi, atau partner. Tapi sang partner lebih suka melakukan pekerjaan yang sama sekali bukan job description dalam surat kontrak. Anggap saja sang partner yang berkromosom XY itu sedang dalam tahap mencari muka kepada bos besar agar kontrak tetap diperpanjang. Hal yang wajar mengingat kontrak enam bulan akan habis di bulan ini, sehingga berbagai cara dilakukan agar kinerja kita diakui bahkan dilanjutkan dengan proyek baru.
Tapi aku tak sempat melakukan aksi mencari simpati, waktuku habis untuk laporan dan laporan yang jika dibaca lebih lanjut... nonsens. Tumpukan-tumpukan kertas berisi data, gambar, perhitungan, dan lain-lain hanyalah sebatas kertas yang nantinya hanya akan diabaikan oleh para petinggi yang menamakan diri mereka adalah Project Manager. Meskipun begitu, gadis bernama Mary itu tetap menekuni segala laporan tersebut hingga tak sempat memperhatikan segala yang ada di sekitarnya, termasuk pembicaraan serius antara dua pria yang masih tetap berlangsung hingga aku hampir menyelesaikan laporan terakhirku selama nyaris satu jam. Satu jam, dan aku sebentar lagi akan mengetahui nasibnya. Apakah aku akan terus dapat melanjutkan proyek yang sekiranya dilakukan di luar kota atau langkahku cukup berhenti sampai disini? Ketika itu aku sama sekali tak tahu dan hanya pasrah kepada nasib. Orangtuaku pernah berkata bahwa, 'Jika kita melakukannya dengan baik, apapun hasilnya, harus kita terima.' Well, apakah aku dapat menerapkan pesan yang disampaikan oleh kedua orangtuaku tersebut?
Office 27 Januari 2011 14.55 wib
"Sir, saya sudah menyelesaikan laporannya."
“Aha, thank you, perfect!”
Kurang dari lima menit dari tenggat, dan aku telah berhasil mengirimkan laporan-laporan tersebut melalui e-mail, meskipun saat itu kondisiku sedang tak fit. Hidung mampet, kepala cenat cenut, dan badan yang demam karena terkena Flu laknat, aku tetap tersenyum. Memberikan senyuman lebar seperti biasa kepada atasanku yang merupakan bule, atasan yang masih ku hormati sejauh ini karena sikapnya yang baik. Respon positif dari sang atasan perihal laporan yang aku sampaikan memberikan sedikit semangat untukku yang sempat luntur. Aku memang gugup, karena sebentar lagi aku akan mengetahui keputusan penting tersebut.
Sembari menunggu dua orang yang kembali melanjutkan perbincangan setelah sempat aku interupsi, aku memilih untuk ber-streaming ria, kebetulan kantor ini akses internetnya cukup cepat, sehingga tak masalah jika aku mendengarkan radio favorite yang sudah lebih dari dua tahun menjadi teman setia. Di tengah-tengah kegundahan karena menunggu, suara Jason Mraz menjadi salah satu obat penenang yang sangat berarti. Mungkin karena aku juga ngefans sekali dengan dia, hampir playlist di laptopku berisi lagu-lagu dia, tapi mengapa tak pernah bosan juga mendengarnya. Oke, pembahasan tentang Jason Mraz akan menghabiskan banyak waktu dan tentu tak habis ditulis hanya dalam satu lembar kertas. Aku berdendang pelan, tak berani bersuara keras kalau tak ingin mendapat tatapan tajam dari dua orang penting itu. Ah iya, kebetulan di dalam kantor ini yang memiliki kasta terendah hanyalah aku. Sang partner sedang mencari makan sore, sementara ketujuh teman-temanku yang lain sedang berada di lapangan. Musibah untukku karena terjebak dalam ruangan ini, well...
Satu bulan sebelumnya.
I heard two men talking on the radio
In a cross fire kind of reality show
“Kamu punya kans sampai 80% kok, Mary.”
“Darimana kamu tahu? Memangnya kamu yang nentuin?”
“Aku dapat bocoran dari supervisor. Kalo kamu bisa nyelesaiin semua laporan dan pendampingan, aku yakin kamu bakal tetep lanjut”
Aku yang saat itu sedang mendengarkan radio di mobil bersama partner kerjaku, hanya bengong. Yah, memang dia dikenal dekat dengan para supervisor yang nantinya akan menyortir kami kembali. Kata-kata dari partnerku itu berhasil membuat semangatku tetap stabil. Sebelum ia mengatakan sesuatu.
“Aku sudah dapet surat kontrak.”
“Eh, apa? Surat kontrak yang mana?”
“Aku tetap diperpanjang sampe tahun depan. Makanya kamu lebih keras lagi biar kayak aku”
WHAT?
Office, 27 January 2011. 16.15 wib
“Mary, bisa bicara sebentar?”
Aku yang asyik mendengarkan lagunya Evan dan Jaron yang berjudul Distance, sontak langsung menutup tab. Posisi duduk yang sebelumnya sempat melorot dengan kepala bersandar di puncak kursi dan laptop yang tergolek manis di atas pangkuan, langsung aku letakkan di atas meja.
“Silakan.” Sahutku sambil melepaskan kabel charger laptop yang sempat membelit di pergelangan kaki.
“Oke, begini... kau tahu bahwa setelah program di Jogja selesai, kita akan melanjutkan di kota lain. Tempo hari aku telah menerima seluruh sms dari kalian semua bahwa kalian bersedia melanjutkan program..”
Then?
“Tapi sayang sekali, dana kami tak cukup untuk membawa kalian semua kesana. Sehingga kami hanya akan membawa empat orang dari kalian.”
Dug... dug...
“Mary, kerjamu bagus dan aku lihat kau bekerja keras selama proyek berlangsung. Dedikasimu untuk program ini baik sekali, aku tak akan meragukannya.”
Tersenyum, tapi ini belum akhir, kan?
“Kau mengerjakan laporan, melakukan pendampingan, semua kau lakukan dengan baik. Bahkan kau memiliki inisiatif bagus daripada teman-temanmu yang lain.”
Sir, kalau kau lebih lama bertele-tele maka kau akan membuat jantungku berhenti lebih cepat. Oh My...
“Setelah aku dan yang lain melakukan evaluasi dan rapat selama beberapa hari di Jakarta. Keputusannya adalah...”
“Maaf, kau tak bisa melanjutkan program ini.”
Aku hanya mengangguk sambil mengatakan ‘oke, tak masalah’ selama berkali-kali tanpa menghilangkan senyuman dari wajahku. Tak lupa juga mengucapkan terima kasih kepada bos bule ku dan memasukkan laptop kedalam ransel. Hanya butuh waktu kurang dari lima menit, aku sudah berada di luar ruangan, menahan rasa sesak di dada yang rasanya tak karuan. Sialnya aku belum bisa menangis jika masih berpapasan dengan orang, tapi kemudian aku teringat akan pesan kedua orangtuaku. Oke, mungkin itulah yang terbaik, karena aku yakin, pasti ada hikmah dibalik setiap kejadian, meskipun kejadian tersebut tak menyenangkan.
FIN.
Lirik credit to Jason Mraz - Remedy
Jumat, 03 Desember 2010
Meracau lagi
Memang aku seseorang yang peka, dan sensitif. Dan aku tidak menyukai segala macam bentuk keributan yang terjadi di sekitarku. Tak tahukah kau bahwa aku ini rapuh? Meskipun kau tak menyadari ucapanmu, sekecil apapun kata-kata itu bagimu, namun dapat menyakiti hatiku. Aku sama sekali tak tahu bagaimana aku bisa menjadi seseorang gadis bodoh yang tunduk padamu. Yah, itu memang karena kedudukan, kekuasaanmu yang memang melebihi aku. Namun, aku juga tak rela diriku diperlakukan seolah aku ini tak memiliki harga diri. Sorry, aku bukanlah tipe orang yang suka melakukan perang statement. Diam menjadi pilihan yang selalu aku ambil di setiap marahku. Meskipun mungkin, dengan diamku kau menganggap aku kalah.
Kamis, 11 November 2010
Listen to me..
Aku ngga mau diatur dengan cara seperti itu, karena aku bisa mengatur diriku sendiri. Aku ngga suka terlalu dilarang olehmu hanya karena kau tidak suka dengan yang aku lakukan, aku sedang belajar untuk bisa memutuskan sesuatu, meskipun keputusan itu kurang baik untukmu. Aku ingin menjadi seorang gadis yang independen, yang tak mau terlalu bergantung padamu, jadi tolong agar kau mau mengerti posisiku.
Aku selalu berusaha memiliki alasan dalam setiap keputusan yang kuambil, dan sejauh ini aku selalu memiliki alasan itu, meskipun kau tidak menyukainya, dan tak mau mendengarnya. Bahkan mungkin kau menentukan sikap seolah-olah itu adalah hukuman untukku. Silahkan saja, karena itu sudah bagian dari resiko yang aku dapat jika telah menentukan sesuatu, kuyakin itu akan membuatku semakin dewasa. Karena aku sadar, selalu ada resiko dari setiap langkah yang sudah kita tentukan, dan aku berusaha untuk tidak menyesalinya.
Aku tak ingin menjadi gadis yang cengeng, gadis yang penakut, dan selalu tak bisa mengambil sikap serta keputusan. Nope, aku tak mau seperti itu. Jadi, maafkan aku jika apa yang aku lakukan tak berkenan di hatimu, aku tak mau menjadi seseorang yang kamu inginkan, aku hanya ingin kau menerimaku seperti ini, seseorang yang memiliki sifat, jalan pikiran, pribadi, tingkah laku yang seratus delapan puluh derajat berbeda darimu, dan mungkin selalu membuatmu jungkir balik karena berusaha memahamiku. Namun aku yakin, dunia kita jauh lebih berwarna dengan perbedaan itu.
Aku selalu berusaha memiliki alasan dalam setiap keputusan yang kuambil, dan sejauh ini aku selalu memiliki alasan itu, meskipun kau tidak menyukainya, dan tak mau mendengarnya. Bahkan mungkin kau menentukan sikap seolah-olah itu adalah hukuman untukku. Silahkan saja, karena itu sudah bagian dari resiko yang aku dapat jika telah menentukan sesuatu, kuyakin itu akan membuatku semakin dewasa. Karena aku sadar, selalu ada resiko dari setiap langkah yang sudah kita tentukan, dan aku berusaha untuk tidak menyesalinya.
Aku tak ingin menjadi gadis yang cengeng, gadis yang penakut, dan selalu tak bisa mengambil sikap serta keputusan. Nope, aku tak mau seperti itu. Jadi, maafkan aku jika apa yang aku lakukan tak berkenan di hatimu, aku tak mau menjadi seseorang yang kamu inginkan, aku hanya ingin kau menerimaku seperti ini, seseorang yang memiliki sifat, jalan pikiran, pribadi, tingkah laku yang seratus delapan puluh derajat berbeda darimu, dan mungkin selalu membuatmu jungkir balik karena berusaha memahamiku. Namun aku yakin, dunia kita jauh lebih berwarna dengan perbedaan itu.
Minggu, 24 Oktober 2010
WN 2010
Seminggu yang lalu, saya baru saja mengikuti sebuah acara di Jakarta yang dikasih judul Wordnation 2010. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh IoH (Island of Hope) yang merupakan sebuah komunitas pencinta games Role Play berbasis teks dan didirikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dunia menulis.
Acara yang dilaksanakan selama dua hari (16-17 Oktober 2010) tersebut tentunya menambah pengalaman berharga lain yang saya dapatkan. Selain tambahan ilmu serta tips-tips menarik melalui acara talk show serta work shop yang dibagi oleh penulis novel ternama sekelas Clara Ng, Farida Susanty, Winna Efendi, Fahd Djibran, dan Donny Dirgantara. Kita juga mendapatkan pengetahuan baru seputar dunia penerbit. Bagaimana tidak, karena ada mbak Jia Effendi yang merupakan Head editor penerbit Atria dan Windy Arietanty dengan gaya casual serta semangatnya menceritakan seluk beluk dunia penerbitan, sehingga saya jadi tahu bagaimana caranya agar tulisan kita dapat diterbitkan dalam bentuk cerpen maupun novel.
Satu hal yang masih terngiang di benak saya mengenai sebuah kalimat yang disampaikan oleh mbak Windy kurang lebih adalah: "tidak ada istilah penulis pemula, sebut saja kalian adalah penulis." Dari kalimat tersebut lagi-lagi membuat saya termotivasi bahwa apapun yang telah kita tulis, baik itu cerpen, novel, blog, atau diary, semuanya adalah wujud dari apa yang kita lakukan sebagai penulis, bukan penulis pemula. Dari pengalaman yang telah mereka dapatkan dan mereka bagi kepada saya maupun teman-teman yang lain, membuat pengetahuan saya bertambah, selain tentu saja semangat untuk melanjutkan hobi menulis saya semakin meningkat. Kalau perlu sih sampai menerbitkan sebuah karya tulis nantinya, amien..
Malamnya, aktivitas tak berhenti begitu saja. Sekitar pukul sepuluh malam, kita semua diajak berjalan-berjalan mengelilingi kota tua Jakarta. Oh iya, lokasi acara ini berada di Museum Bank Mandiri, sebuah bangunan peninggalan Belanda dan didirikan tahun 1929 (kalo ga salah..) dan dulunya dipakai sebagai pusat bisnis dan perkebunan. Sekarang, digunakan sebagai Museum Bank Mandiri. Acara jelajah malam ini bekerjasama oleh komunitas Historia dengan rute Museum Bank Indonesia (de Javasche Bank) –NIHB –Escompto Bank –Kali Besar –Chartered Bank –Toko Merah –Athena –Jembatan Kota Intan*–Gedung Cipta Niaga** –Café Batavia –Fatahillah Squre –Stasiun BeOs – Museum Mandiri (nyomot dari blognya IoH yak) dan memang semuanya, terlihat kereeennn.... ngga nyangka pemandangan kota tua di malam hari begitu menakjubkan. Sayang saya ngga bawa kamera sendiri dan mengandalkan kamera Rachma sambil berharap moga-moga ia segera mengapload gambarnya. Apalagi setiap tempat dijelaskan mengenai sejarahnya, berasa pengen balik ke masa lalu dan melihat dengan mata kepala sendiri. Jelajah kota tua ini sendiri berakhir di Museum Mandiri sekitar pukul sebelas malam, walaupun hanya satu jam tapi saya jamin memori mengenai kota tua Jakarta akan bertahan selama bertahun-tahun di otak saya. Beneran pengen balik ke sana lagi...
Acara berikutnya, saya lanjut lagi deh kapan-kapan.....
Acara yang dilaksanakan selama dua hari (16-17 Oktober 2010) tersebut tentunya menambah pengalaman berharga lain yang saya dapatkan. Selain tambahan ilmu serta tips-tips menarik melalui acara talk show serta work shop yang dibagi oleh penulis novel ternama sekelas Clara Ng, Farida Susanty, Winna Efendi, Fahd Djibran, dan Donny Dirgantara. Kita juga mendapatkan pengetahuan baru seputar dunia penerbit. Bagaimana tidak, karena ada mbak Jia Effendi yang merupakan Head editor penerbit Atria dan Windy Arietanty dengan gaya casual serta semangatnya menceritakan seluk beluk dunia penerbitan, sehingga saya jadi tahu bagaimana caranya agar tulisan kita dapat diterbitkan dalam bentuk cerpen maupun novel.
Satu hal yang masih terngiang di benak saya mengenai sebuah kalimat yang disampaikan oleh mbak Windy kurang lebih adalah: "tidak ada istilah penulis pemula, sebut saja kalian adalah penulis." Dari kalimat tersebut lagi-lagi membuat saya termotivasi bahwa apapun yang telah kita tulis, baik itu cerpen, novel, blog, atau diary, semuanya adalah wujud dari apa yang kita lakukan sebagai penulis, bukan penulis pemula. Dari pengalaman yang telah mereka dapatkan dan mereka bagi kepada saya maupun teman-teman yang lain, membuat pengetahuan saya bertambah, selain tentu saja semangat untuk melanjutkan hobi menulis saya semakin meningkat. Kalau perlu sih sampai menerbitkan sebuah karya tulis nantinya, amien..
Malamnya, aktivitas tak berhenti begitu saja. Sekitar pukul sepuluh malam, kita semua diajak berjalan-berjalan mengelilingi kota tua Jakarta. Oh iya, lokasi acara ini berada di Museum Bank Mandiri, sebuah bangunan peninggalan Belanda dan didirikan tahun 1929 (kalo ga salah..) dan dulunya dipakai sebagai pusat bisnis dan perkebunan. Sekarang, digunakan sebagai Museum Bank Mandiri. Acara jelajah malam ini bekerjasama oleh komunitas Historia dengan rute Museum Bank Indonesia (de Javasche Bank) –NIHB –Escompto Bank –Kali Besar –Chartered Bank –Toko Merah –Athena –Jembatan Kota Intan*–Gedung Cipta Niaga** –Café Batavia –Fatahillah Squre –Stasiun BeOs – Museum Mandiri (nyomot dari blognya IoH yak) dan memang semuanya, terlihat kereeennn.... ngga nyangka pemandangan kota tua di malam hari begitu menakjubkan. Sayang saya ngga bawa kamera sendiri dan mengandalkan kamera Rachma sambil berharap moga-moga ia segera mengapload gambarnya. Apalagi setiap tempat dijelaskan mengenai sejarahnya, berasa pengen balik ke masa lalu dan melihat dengan mata kepala sendiri. Jelajah kota tua ini sendiri berakhir di Museum Mandiri sekitar pukul sebelas malam, walaupun hanya satu jam tapi saya jamin memori mengenai kota tua Jakarta akan bertahan selama bertahun-tahun di otak saya. Beneran pengen balik ke sana lagi...
Acara berikutnya, saya lanjut lagi deh kapan-kapan.....
Rabu, 06 Oktober 2010
Love (abaikan judulnya)
Sesuai embel-embel judul disana, yang pake kurungan ituh... well, sekali lagi pesan saya adalah, abaikan saja judulnya. Karena apa? Karena mungkin ngga bakal nyambung tentang apa yang mau saya tulis dengan judul diatas. Tapi, biar ngga kecewa, tetep saya usahain nyambung kok.
Baiklah, cukup sudah meracaunya...
Jadi begini, beberapa hari terakhir, saya menemukan keluhan-keluhan yang ternyata cukup banyak dilontarkan ke saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ya biasanya melalui ym alias chatting dengan temen-temen NW, dan secara ngga langsung saya artikan jika kebetulan saya baca sebuah status atau blog seseorang yang berisi keluhan yang kurang lebih sama. Pertanyaannya adalah, keluhan tentang apa sih? Kok kayaknya penting banget...
Mungkin bagi sebagian orang ngga penting, tapi bagi seseorang yang mengeluhkan hal ini menjadi sangat penting. Daripada saya bertele-tele ngga jelas, langsung dibahas aja deh. Jadi, keluhannya adalah rasa sebal atau benci atau marah bahkan kecewa atas sikap atau perilaku orangtua kepada sang anak. Naahh... yang masih berstatus anak-anak, perhatiin deh ya.. pernah ngga sih kalian merasa bete ketika orang tua kalian menganggap kalian masih seperti anak kecil? Berani bertaruh seratus karung goni pasti banyak yang bete, termasuk saya sendiri tentunya. Tak jarang saya banyak menemukan beberapa temen dengan usia diatas 20 tahun, berstatus single, dan masih hidup bersama ortu (saya banget tuh... LoL) yang merasa kehidupan mereka seakan lebih terkekang daripada saat mereka masih berusia abege atau teenager. Larangan-larangan jadi lebih sering diberlakukan oleh orangtua kepada si anak, hingga sampai pada taraf ngga masuk akal. Seperti ngga boleh keluar malem, ngga boleh main game, ngga boleh internetan, dan lain lain.
Hal-hal semacam ini seringkali menimbulkan benturan antara ortu dan anak itu sendiri, ortu memiliki motivasi khusus mengapa mereka melarang anak berbuat hal-hal yang dianggap tidak benar menurut mereka, namun disisi lain si anak yang merasa bahwa dirinya sudah dewasa, berhak melakukan tindakan semacam itu. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Mengapa bisa timbul fenomena seperti ini, yang jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak.
Kebetulan saya pernah mengalami hal tersebut, saat dimana ortu jadi lebih bawel dari biasanya. Hampir tiap hari mereka memberikan teguran-teguran yang seharusnya diberikan ketika saya abege, sampe pernah berpikir gini: "Sebenernya umur saya berapa sih? Jangan-jangan mereka menganggap saya itu anak SMP?" dan reaksi saya setiap kali mendapat teguran semacam itu adalah marah. Kemarahan itu akibat dari rasa tidak terima karena merasa bahwa saya sudah besar, saya sudah dewasa dan ngga perlu diberi teguran-teguran begitu.
Tapi, setelah sekian lama saya berpikir, berusaha menyelami cara berpikir mereka disaat saya sedang merenung, ternyata tak ada alasan lain selain rasa cinta dan sayang mereka ke kita. Beneran deh, coba direnungkan disaat kalian itu dalam kondisi hati yang tenang tanpa emosi, maka kesimpulan saya diatas benar adanya. Mereka sebenernya khawatir akan masa depan kita, karena pasti mereka ngga pengen masa depan anak-anaknya suram. Hanya, penyampaian yang mereka tunjukkan kurang pas, sehingga pesan yang tersampaikan kurang tepat sasaran. Mereka berharap, daripada waktu kita habis untuk maen game, maen internet, atau pergi-pergi ngga jelas, sebaiknya dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Bantuin bersih-bersih rumah, mungkin. Eh, jangan ketawa dulu.... kayaknya cuma bersih-bersih rumah, tapi efeknya dahsyat loh. Selain rumah bakal lebih bersih, badan lebih sehat karena otomatis tubuh kita bergerak, menyenangkan hati ortu, dan dapet pahala.... tuh kan, banyak banget manfaatnya. Intinya sih, kita jangan langsung menganggap ortu kita ngga baik hanya karena mendapat 'semburan' dari mereka, tapi kita juga harus introspeksi diri. Selama ortu ngga bermasalah, pasti mereka tak akan menjerumuskan anak sendiri, percaya deh...
Baiklah, cukup sudah meracaunya...
Jadi begini, beberapa hari terakhir, saya menemukan keluhan-keluhan yang ternyata cukup banyak dilontarkan ke saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ya biasanya melalui ym alias chatting dengan temen-temen NW, dan secara ngga langsung saya artikan jika kebetulan saya baca sebuah status atau blog seseorang yang berisi keluhan yang kurang lebih sama. Pertanyaannya adalah, keluhan tentang apa sih? Kok kayaknya penting banget...
Mungkin bagi sebagian orang ngga penting, tapi bagi seseorang yang mengeluhkan hal ini menjadi sangat penting. Daripada saya bertele-tele ngga jelas, langsung dibahas aja deh. Jadi, keluhannya adalah rasa sebal atau benci atau marah bahkan kecewa atas sikap atau perilaku orangtua kepada sang anak. Naahh... yang masih berstatus anak-anak, perhatiin deh ya.. pernah ngga sih kalian merasa bete ketika orang tua kalian menganggap kalian masih seperti anak kecil? Berani bertaruh seratus karung goni pasti banyak yang bete, termasuk saya sendiri tentunya. Tak jarang saya banyak menemukan beberapa temen dengan usia diatas 20 tahun, berstatus single, dan masih hidup bersama ortu (saya banget tuh... LoL) yang merasa kehidupan mereka seakan lebih terkekang daripada saat mereka masih berusia abege atau teenager. Larangan-larangan jadi lebih sering diberlakukan oleh orangtua kepada si anak, hingga sampai pada taraf ngga masuk akal. Seperti ngga boleh keluar malem, ngga boleh main game, ngga boleh internetan, dan lain lain.
Hal-hal semacam ini seringkali menimbulkan benturan antara ortu dan anak itu sendiri, ortu memiliki motivasi khusus mengapa mereka melarang anak berbuat hal-hal yang dianggap tidak benar menurut mereka, namun disisi lain si anak yang merasa bahwa dirinya sudah dewasa, berhak melakukan tindakan semacam itu. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Mengapa bisa timbul fenomena seperti ini, yang jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak.
Kebetulan saya pernah mengalami hal tersebut, saat dimana ortu jadi lebih bawel dari biasanya. Hampir tiap hari mereka memberikan teguran-teguran yang seharusnya diberikan ketika saya abege, sampe pernah berpikir gini: "Sebenernya umur saya berapa sih? Jangan-jangan mereka menganggap saya itu anak SMP?" dan reaksi saya setiap kali mendapat teguran semacam itu adalah marah. Kemarahan itu akibat dari rasa tidak terima karena merasa bahwa saya sudah besar, saya sudah dewasa dan ngga perlu diberi teguran-teguran begitu.
Tapi, setelah sekian lama saya berpikir, berusaha menyelami cara berpikir mereka disaat saya sedang merenung, ternyata tak ada alasan lain selain rasa cinta dan sayang mereka ke kita. Beneran deh, coba direnungkan disaat kalian itu dalam kondisi hati yang tenang tanpa emosi, maka kesimpulan saya diatas benar adanya. Mereka sebenernya khawatir akan masa depan kita, karena pasti mereka ngga pengen masa depan anak-anaknya suram. Hanya, penyampaian yang mereka tunjukkan kurang pas, sehingga pesan yang tersampaikan kurang tepat sasaran. Mereka berharap, daripada waktu kita habis untuk maen game, maen internet, atau pergi-pergi ngga jelas, sebaiknya dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Bantuin bersih-bersih rumah, mungkin. Eh, jangan ketawa dulu.... kayaknya cuma bersih-bersih rumah, tapi efeknya dahsyat loh. Selain rumah bakal lebih bersih, badan lebih sehat karena otomatis tubuh kita bergerak, menyenangkan hati ortu, dan dapet pahala.... tuh kan, banyak banget manfaatnya. Intinya sih, kita jangan langsung menganggap ortu kita ngga baik hanya karena mendapat 'semburan' dari mereka, tapi kita juga harus introspeksi diri. Selama ortu ngga bermasalah, pasti mereka tak akan menjerumuskan anak sendiri, percaya deh...
Selasa, 28 September 2010
Yah sudahlah...
Beberapa waktu yang lalu, aku iseng-iseng ikut kuis kepribadian di Facebook, nah hasil dari kuis tersebut adalah:
Namun ada satu orang yang mengkritisi hasil kuis itu. Menurutnya, itu hanya 75% saja karena kadang aku masih melakukan beberapa reaksi apabila ada yang melukai perasaanku. Well, itu tidak salah kok, dan saya akui memang kadang saya masih melakukan hal itu. Bahkan mungkin detik ini ketika saya ngeblog disini. Menurut saya, hal tersebut wajar, apalagi di usia saya yang masih muncul sisi kekanak-kanakannya dengan mewujudkannya dengan sikap semacam itu. Tapi ngga tau kenapa, saya merasa ketika saya melakukan sebuah kesalahan maka orang lain membalasnya dengan lebih dahsyat. Lebay mungkin, tapi itu yang saya rasakan. Dan itu rasanya sakit banget, sumpah. Akhirnya saya berpikir, apakah kesalahan yang saya perbuat terhadap orang lain memberikan efek sama menyakitkannya dengan yang saya rasakan? Kalau iya, yah anggap itu sebagai hukuman buat saya.
Langganan:
Komentar (Atom)
