Statistik

Minggu, 24 Oktober 2010

WN 2010

Seminggu yang lalu, saya baru saja mengikuti sebuah acara di Jakarta yang dikasih judul Wordnation 2010. Sebuah acara yang diselenggarakan oleh IoH (Island of Hope) yang merupakan sebuah komunitas pencinta games Role Play berbasis teks dan didirikan sebagai bentuk apresiasi terhadap dunia menulis.

Acara yang dilaksanakan selama dua hari (16-17 Oktober 2010) tersebut tentunya menambah pengalaman berharga lain yang saya dapatkan. Selain tambahan ilmu serta tips-tips menarik melalui acara talk show serta work shop yang dibagi oleh penulis novel ternama sekelas Clara Ng, Farida Susanty, Winna Efendi, Fahd Djibran, dan Donny Dirgantara. Kita juga mendapatkan pengetahuan baru seputar dunia penerbit. Bagaimana tidak, karena ada mbak Jia Effendi yang merupakan Head editor penerbit Atria dan Windy Arietanty dengan gaya casual serta semangatnya menceritakan seluk beluk dunia penerbitan, sehingga saya jadi tahu bagaimana caranya agar tulisan kita dapat diterbitkan dalam bentuk cerpen maupun novel.

Satu hal yang masih terngiang di benak saya mengenai sebuah kalimat yang disampaikan oleh mbak Windy kurang lebih adalah: "tidak ada istilah penulis pemula, sebut saja kalian adalah penulis." Dari kalimat tersebut lagi-lagi membuat saya termotivasi bahwa apapun yang telah kita tulis, baik itu cerpen, novel, blog, atau diary, semuanya adalah wujud dari apa yang kita lakukan sebagai penulis, bukan penulis pemula. Dari pengalaman yang telah mereka dapatkan dan mereka bagi kepada saya maupun teman-teman yang lain, membuat pengetahuan saya bertambah, selain tentu saja semangat untuk melanjutkan hobi menulis saya semakin meningkat. Kalau perlu sih sampai menerbitkan sebuah karya tulis nantinya, amien..

Malamnya, aktivitas tak berhenti begitu saja. Sekitar pukul sepuluh malam, kita semua diajak berjalan-berjalan mengelilingi kota tua Jakarta. Oh iya, lokasi acara ini berada di Museum Bank Mandiri, sebuah bangunan peninggalan Belanda dan didirikan tahun 1929 (kalo ga salah..) dan dulunya dipakai sebagai pusat bisnis dan perkebunan. Sekarang, digunakan sebagai Museum Bank Mandiri. Acara jelajah malam ini bekerjasama oleh komunitas Historia dengan rute Museum Bank Indonesia (de Javasche Bank) –NIHB –Escompto Bank –Kali Besar –Chartered Bank –Toko Merah –Athena –Jembatan Kota Intan*–Gedung Cipta Niaga** –CafĂ© Batavia –Fatahillah Squre –Stasiun BeOs – Museum Mandiri (nyomot dari blognya IoH yak) dan memang semuanya, terlihat kereeennn.... ngga nyangka pemandangan kota tua di malam hari begitu menakjubkan. Sayang saya ngga bawa kamera sendiri dan mengandalkan kamera Rachma sambil berharap moga-moga ia segera mengapload gambarnya. Apalagi setiap tempat dijelaskan mengenai sejarahnya, berasa pengen balik ke masa lalu dan melihat dengan mata kepala sendiri. Jelajah kota tua ini sendiri berakhir di Museum Mandiri sekitar pukul sebelas malam, walaupun hanya satu jam tapi saya jamin memori mengenai kota tua Jakarta akan bertahan selama bertahun-tahun di otak saya. Beneran pengen balik ke sana lagi...

Acara berikutnya, saya lanjut lagi deh kapan-kapan.....

Rabu, 06 Oktober 2010

Love (abaikan judulnya)

Sesuai embel-embel judul disana, yang pake kurungan ituh... well, sekali lagi pesan saya adalah, abaikan saja judulnya. Karena apa? Karena mungkin ngga bakal nyambung tentang apa yang mau saya tulis dengan judul diatas. Tapi, biar ngga kecewa, tetep saya usahain nyambung kok.

Baiklah, cukup sudah meracaunya...

Jadi begini, beberapa hari terakhir, saya menemukan keluhan-keluhan yang ternyata cukup banyak dilontarkan ke saya, baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung ya biasanya melalui ym alias chatting dengan temen-temen NW, dan secara ngga langsung saya artikan jika kebetulan saya baca sebuah status atau blog seseorang yang berisi keluhan yang kurang lebih sama. Pertanyaannya adalah, keluhan tentang apa sih? Kok kayaknya penting banget...

Mungkin bagi sebagian orang ngga penting, tapi bagi seseorang yang mengeluhkan hal ini menjadi sangat penting. Daripada saya bertele-tele ngga jelas, langsung dibahas aja deh. Jadi, keluhannya adalah rasa sebal atau benci atau marah bahkan kecewa atas sikap atau perilaku orangtua kepada sang anak. Naahh... yang masih berstatus anak-anak, perhatiin deh ya.. pernah ngga sih kalian merasa bete ketika orang tua kalian menganggap kalian masih seperti anak kecil? Berani bertaruh seratus karung goni pasti banyak yang bete, termasuk saya sendiri tentunya. Tak jarang saya banyak menemukan beberapa temen dengan usia diatas 20 tahun, berstatus single, dan masih hidup bersama ortu (saya banget tuh... LoL) yang merasa kehidupan mereka seakan lebih terkekang daripada saat mereka masih berusia abege atau teenager. Larangan-larangan jadi lebih sering diberlakukan oleh orangtua kepada si anak, hingga sampai pada taraf ngga masuk akal. Seperti ngga boleh keluar malem, ngga boleh main game, ngga boleh internetan, dan lain lain.

Hal-hal semacam ini seringkali menimbulkan benturan antara ortu dan anak itu sendiri, ortu memiliki motivasi khusus mengapa mereka melarang anak berbuat hal-hal yang dianggap tidak benar menurut mereka, namun disisi lain si anak yang merasa bahwa dirinya sudah dewasa, berhak melakukan tindakan semacam itu. Sebenarnya, apa yang sedang terjadi? Mengapa bisa timbul fenomena seperti ini, yang jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan dampak negatif bagi kedua belah pihak.

Kebetulan saya pernah mengalami hal tersebut, saat dimana ortu jadi lebih bawel dari biasanya. Hampir tiap hari mereka memberikan teguran-teguran yang seharusnya diberikan ketika saya abege, sampe pernah berpikir gini: "Sebenernya umur saya berapa sih? Jangan-jangan mereka menganggap saya itu anak SMP?" dan reaksi saya setiap kali mendapat teguran semacam itu adalah marah. Kemarahan itu akibat dari rasa tidak terima karena merasa bahwa saya sudah besar, saya sudah dewasa dan ngga perlu diberi teguran-teguran begitu.

Tapi, setelah sekian lama saya berpikir, berusaha menyelami cara berpikir mereka disaat saya sedang merenung, ternyata tak ada alasan lain selain rasa cinta dan sayang mereka ke kita. Beneran deh, coba direnungkan disaat kalian itu dalam kondisi hati yang tenang tanpa emosi, maka kesimpulan saya diatas benar adanya. Mereka sebenernya khawatir akan masa depan kita, karena pasti mereka ngga pengen masa depan anak-anaknya suram. Hanya, penyampaian yang mereka tunjukkan kurang pas, sehingga pesan yang tersampaikan kurang tepat sasaran. Mereka berharap, daripada waktu kita habis untuk maen game, maen internet, atau pergi-pergi ngga jelas, sebaiknya dialihkan ke hal-hal yang lebih bermanfaat. Bantuin bersih-bersih rumah, mungkin. Eh, jangan ketawa dulu.... kayaknya cuma bersih-bersih rumah, tapi efeknya dahsyat loh. Selain rumah bakal lebih bersih, badan lebih sehat karena otomatis tubuh kita bergerak, menyenangkan hati ortu, dan dapet pahala.... tuh kan, banyak banget manfaatnya. Intinya sih, kita jangan langsung menganggap ortu kita ngga baik hanya karena mendapat 'semburan' dari mereka, tapi kita juga harus introspeksi diri. Selama ortu ngga bermasalah, pasti mereka tak akan menjerumuskan anak sendiri, percaya deh...